Di banyak tempat di Indonesia, kerja pendamping kasus kekerasan terhadap perempuan berlangsung dalam kesunyian. Ada yang bekerja dari ruang kecil di kantor layanan, ada yang mendampingi korban dari rumah ke rumah, dan tidak jarang ada yang harus menjawab telepon darurat di tengah malam. Mereka bukan hanya penghubung layanan, tetapi juga telinga pertama, tempat aman pertama, dan sering kali orang yang paling dipercaya korban.
Namun realitas baru menghadang: dunia digital kini memainkan peran besar dalam pendampingan. Bukti kasus dikirim lewat ponsel, laporan disusun melalui aplikasi, dan koordinasi terjadi melalui ruang daring. Di satu sisi, teknologi mempermudah kerja pendamping; di sisi lain, ia membuka risiko baru kebocoran data, penyebaran informasi sensitif, hingga ancaman langsung yang muncul dari ruang digital.
Melihat kebutuhan itu, Yayasan Penabulu melalui Indonesia Women’s Rights Fund (IWRF), dengan dukungan Canadian Fund for Local Initiatives (CFLI), menyelenggarakan pelatihan “Keamanan untuk Ruang Digital di Indonesia dan Jurnalisme Rakyat” pada 21-23 Oktober 2025. Pelatihan ini diikuti oleh lima organisasi perempuan (WROs) dari berbagai wilayah, yaitu LBH Apik (Banten), YABIKU (Nusa Tenggara Timur), SAPDA (Yogyakarta), PPMS (Kalimantan Timur), LBH Jentera (Jawa Timur), dan Lingkar Madani (Jakarta).
Sesi berlangsung secara daring dan turut menghadirkan Tempo Institute sebagai narasumber, yang mendorong peserta memahami bagaimana narasi publik dapat menjadi alat advokasi tanpa mengorbankan keamanan korban maupun pendamping.
Pertemuan yang Sederhana, Tapi Berarti
Pertemuan pertama dibuka dengan suasana yang pelan, tanpa formalitas berlebihan. Peserta diminta membagikan satu kata yang mewakili perasaan mereka. Ada yang menulis “semangat”, ada yang “lega”, ada juga yang berkata sedang “berjuang dari banyak arah”.
Dari pembukaan sederhana itu, suasana berubah menjadi ruang yang aman. Para pendamping datang dengan cerita dan kelelahan masing-masing, tetapi juga dengan harapan yang sama: ingin meningkatkan kemampuan agar bisa memberikan pendampingan yang lebih baik dan lebih aman.
Dari diskusi awal, terlihat bahwa banyak peserta sudah terbiasa menghadapi dinamika di lapangan berurusan dengan aparat, memberikan dukungan emosional, hingga mencari rujukan layanan. Tetapi ketika percakapan masuk ke isu keamanan digital, banyak yang merasa perlu mengevaluasi ulang cara mereka menyimpan dokumen, berkomunikasi dengan korban, dan memberikan informasi penting.
Keamanan Digital dalam Kerja Pendamping: Penting, Tapi Sering Terlupakan
Keamanan digital sering dianggap hal teknis, padahal ia bersentuhan langsung dengan perlindungan korban. Pelatihan ini mengajak peserta memahami bahwa banyak informasi sensitif yang mereka pegang: rekam medis, foto, percakapan pribadi, hingga dokumen hukum. Semua ini perlu dijaga agar tidak jatuh ke tangan pihak yang salah.
Peserta dikenalkan pada prinsip-prinsip dasar:
- Menggunakan kata sandi yang lebih kuat
- Tidak sembarangan mengakses internet publik
- Menyimpan dokumen korban di ruang aman
- Berhati-hati menggunakan media sosial
- Memahami batasan membagikan informasi
Sebagian peserta merasa banyak hal baru yang harus dipelajari, tetapi mereka juga menyadari bahwa langkah kecil saja bisa mengurangi risiko besar. Pelatihan tidak menuntut peserta menjadi ahli teknologi, hanya meminta mereka lebih sadar bahwa ruang digital tidak selalu aman.
Belajar Membuat Cerita yang Berpihak dan Sensitif
Selain keamanan digital, sesi jurnalisme rakyat menjadi titik penting dalam pelatihan. Para pendamping sering diminta menuliskan laporan, mendokumentasikan kasus, atau membuat narasi untuk kebutuhan advokasi. Tetapi menulis kasus kekerasan bukan hal sederhana.
Pelatihan ini menjembatani kebutuhan tersebut: bagaimana menulis cerita yang benar, tepat, dan tidak melukai korban. Prinsipnya sederhana:
korban harus tetap memiliki kendali atas cerita mereka.
Peserta diajak memahami:
- bagaimana menjaga anonimitas korban
- apa saja informasi yang tidak boleh dipublikasikan
- cara menghindari bahasa yang menyudutkan korban
- bagaimana menempatkan peristiwa secara proporsional
- bagaimana menulis tanpa menambah trauma
Tujuannya bukan untuk menjadikan pendamping sebagai jurnalis profesional, tetapi untuk membantu mereka bercerita dengan cara yang aman dan etis. Cara bercerita yang tidak mempermalukan korban, tidak membingkai kasus sebagai sensasi, dan tidak memperkuat stigma yang sudah lama membebani perempuan yang mengalami kekerasan.
Pendamping Bukan Pahlawan Tunggal
Salah satu hal yang muncul dari pelatihan adalah kesadaran bahwa pendamping sering memikul beban besar emosional, sosial, bahkan finansial. Mereka mendampingi korban sambil tetap mengurus keluarga, pekerjaan lain, atau masalah pribadi.
Pelatihan ini mengingatkan bahwa pendamping tidak harus selalu kuat setiap waktu. Mereka juga manusia yang bisa kelelahan dan membutuhkan ruang aman. Karena itu, kehadiran pelatihan seperti ini membantu mereka merasakan ulang bahwa mereka tidak berjalan sendirian.
Bertemu peserta dari wilayah berbeda membuat mereka dapat melihat bagaimana pendamping lain menghadapi tantangan serupa:
- sulitnya akses layanan
- resistensi aparat
- tekanan dari keluarga pelaku
- kekurangan sumber daya
- serta kebutuhan untuk terus belajar
Dari pertemuan-pertemuan sederhana itu, tumbuh rasa saling menguatkan.
Penutup: Langkah Kecil untuk Gerakan yang Lebih Kuat
Pelatihan ini mungkin tidak menyelesaikan seluruh persoalan pendampingan di Indonesia. Tetapi ia menjadi titik penting untuk memperkuat fondasi: pengetahuan yang jelas, prinsip yang kokoh, dan jaringan yang saling menyokong.
Dengan dukungan CFLI, program ini memberi ruang bagi pendamping untuk meningkatkan keterampilan mereka baik dalam keamanan digital, jurnalisme rakyat, maupun pemahaman etis dalam penanganan kasus. Dan yang paling penting, pelatihan ini mengingatkan bahwa:
Pendampingan adalah kerja kemanusiaan yang tidak boleh dilakukan sendirian.
Pelatihan ini menutup pertemuan pertamanya dengan kesadaran baru: bahwa menjaga korban berarti juga menjaga para pendamping. Bahwa ruang aman tidak hanya untuk penyintas, tetapi juga untuk mereka yang setiap hari berdiri di sisi para perempuan yang membutuhkan pertolongan.
Dan selama ruang belajar seperti ini terus terjaga, upaya melawan kekerasan terhadap perempuan akan selalu menemukan jalannya.

