Nina seorang penyandang disabilitas, dengan dukungan keluarga dan komunitas bangkit membangun kembali kehidupannya.
Hari-hari Nina dipenuhi tekanan. Ia kerap diminta mentransfer uang dengan berbagai alasan. Ketika menolak, ancaman dan tuduhan ketidaksetiaan langsung diarahkan kepadanya. Yang lebih menyakitkan, ia juga dipaksa melakukan hubungan seksual meski hatinya menolak. Tubuhnya seakan tak lagi menjadi miliknya. Luka batin itu kian dalam saat Nina mengetahui bahwa sang kekasih berselingkuh.
Keterpurukan tersebut membuat Nina kehilangan semangat hidup. Ia menarik diri dari lingkungan sekitar, sulit tidur, dan terus dihantui rasa bersalah. Ia menyalahkan diri sendiri—merasa bodoh karena diperdaya, merasa tidak berharga, dan merasa gagal sebagai manusia. Depresi pun menyelimuti hari-harinya.
Bukannya mendapatkan penguatan di rumah, Nina justru menghadapi tekanan baru. Orang tuanya menyalahkan dirinya, menilai ia manja dan tidak tegas. Mereka bahkan memaksa Nina segera menikah agar hidupnya dianggap ‘beres’. Sikap itu semakin membenarkan perasaan Nina bahwa dirinya telah gagal.
Perempuan penyandang disabilitas sering menghadapi kerentanan yang berlapis. Selain hambatan akses terhadap layanan, mereka juga lebih rentan mengalami kekerasan berbasis gender akibat ketimpangan relasi kuasa, ketergantungan ekonomi, dan stigma sosial yang masih kuat. Dalam pengalaman SAPDA, situasi ini semakin diperberat oleh tekanan ekonomi yang dialami banyak keluarga. Ketika perubahan iklim memengaruhi sumber penghidupan masyarakat, terutama mereka yang bergantung pada sektor informal, perempuan penyandang disabilitas kerap menjadi kelompok yang paling terdampak. Kerentanan ekonomi, keterbatasan mobilitas, dan minimnya akses layanan membuat mereka semakin sulit keluar dari situasi kekerasan. Karena itu, bagi SAPDA, perlindungan terhadap perempuan penyandang disabilitas merupakan bagian penting dari upaya mewujudkan transisi hijau yang adil dan inklusif, di mana tidak ada seorang pun yang tertinggal.
Namun, di tengah gelapnya hari, secercah cahaya mulai muncul. Nina memberanikan diri mencari layanan pendampingan psikologis di Rumah Cakap Bermartabat (RCB) SAPDA. Di ruang konseling, untuk pertama kalinya, ia merasa didengar tanpa dihakimi. Dengan bantuan penerjemah bahasa isyarat, ia membuka luka yang selama ini dipendam.
Psikolog memperkenalkan teknik Cognitive Behavioral Therapy (CBT) untuk membantu Nina mengenali pikiran-pikiran negatif yang selama ini menguasai dirinya, seperti “Saya tidak berharga”, “Saya bodoh karena ditipu”, dan “Saya tidak punya masa depan”.
Secara perlahan, pikiran-pikiran tersebut diuji kebenarannya, lalu digantikan dengan cara pandang yang lebih sehat. Nina juga dibimbing untuk menyusun agenda harian sederhana: bangun pagi tepat waktu; kembali menggambar; sampai berinteraksi lagi dengan komunitas tuli. Setiap keberhasilan kecil menjadi pijakan penting untuk membangun kembali rasa percaya dirinya.
Keluarga Nina pun dilibatkan. Melalui psikoedukasi, orang tuanya diajak memahami bahwa kondisi anak mereka bukan sekadar ‘kurang kuat mental’, melainkan dampak serius dari relasi penuh kekerasan. Mereka belajar bahwa dukungan bukan berarti menyalahkan atau memaksa menikah, melainkan memberi ruang aman, mendengarkan, dan menerima proses pemulihan Nina.
Perubahan memang tidak terjadi seketika, tetapi tanda-tanda pemulihan mulai tampak. Gejala depresi berkurang, lingkaran pikiran negatif perlahan terurai. Nina mulai berani menghadiri pertemuan komunitas tuli, membangun koneksi dengan teman-teman yang suportif, bahkan mendapatkan pekerjaan di sebuah usaha kecil yang ramah terhadap disabilitas. “Saya dulu merasa sendirian, hidup saya sudah selesai. Sekarang, saya bisa tersenyum lagi. Saya bisa percaya bahwa saya masih punya masa depan,” ungkapnya dengan bahasa isyarat yang diterjemahkan pendamping.
Kisah Nina menunjukkan bahwa pemulihan bukan hanya soal terapi individu. Ada faktor kunci yang membuatnya berhasil: CBT yang sistematis, terapi aktivitas yang menumbuhkan rasa mampu, psikoedukasi keluarga yang mengubah pola dukungan, serta keberadaan penerjemah dan komunitas tuli yang memastikan ia tidak berjalan sendiri. Semua itu membentuk pendekatan holistik yang menyatukan individu, keluarga, dan komunitas.
Pelajaran penting dari perjalanan Nina adalah bahwa perempuan dengan disabilitas menghadapi kerentanan berlapis. Mereka berisiko mengalami kekerasan berbasis gender sekaligus berhadapan dengan hambatan komunikasi dan stigma sosial. Karena itu, intervensi yang efektif perlu menjangkau seluruh lingkaran kehidupan mereka.
Kisah Nina membuktikan bahwa dengan pendampingan psikologis yang tepat, pemahaman dari keluarga, serta dukungan komunitas, seorang perempuan dapat keluar dari jerat kekerasan dan depresi. Nina tidak hanya pulih, tetapi juga berhasil membangun kembali kehidupannya. Ia melangkah, dari sunyi yang penuh luka, menuju cahaya harapan.


